Tuesday, December 20, 2011

Pelaksanaan Model Kerja Sama Antarsiswa dalam Mendukung Pembelajaran Pada SMA Negeri 1 Liliriaja.





BAB  I
PENDAHULUA N

A. Latar Belakang
Sekolah sebagai sebuah organisasi pastilah di dalamnya terdapat berbagai macam  bentuk kerjasama   khususnya yang dituangkan dalam proses pembelajaran. Kerjasama tersebut tidak dapat dihindari dan bahkan wajib untuk dilaksanakan demi terciptanya sebuah lingkup organisasi yang diharapkan dapat berkembang seiring perkembangan zaman.
Carlisle (dalam Sofyan, 2004:10) menyatakan sekolah terbentuk bukanlah karena kebetulan tapi justru dengan sebuah kesengajaan, yakni mereka sengaja untuk menyatu walaupun di dalamnya ada tugas yang berbeda satu sama lain dalam rangka mencapai sebuah tujuan bersama.
Landasan pengembangan bahan ajar dalam KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) adalah upaya untuk memandirikan peserta didik untuk belajar, bekerja sama, dan menilai diri sendiri diutamakan agar peserta didik mampu membangun kemauan, pemahaman, dan pengetahuannya (Depdiknas, 2004:4).  Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam proses belajar-mengajar perlu suatu model kerja sama antarsiswa sekelas, antarsiswa dengan siswa lain, dan antarsiswa dengan guru untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.
Dari bentuk interaksi atau kerjasama, siswa diharapkan mampu memasuki kehidupan yang sebenarnya setelah lepas dari bangku SMA. Bukan untuk melahirkan sebuah pernyataan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Peserta didik diharapkan mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah guna memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi.
Namun, dewasa ini bentuk pengaplikasian dari model kerjasama tidak begitu dimanfatkan sebagai media untuk melatih sikap kepemimpinan, kemandirian, kecakapan, dan keterampilan para siswa.
Dengan berusaha untuk mencerna bahwa kerja sama merupakan suatu proses belajar dalam kehidupan dimana kita dituntut untuk berpikir secara kreatif serta memanfaatkan model kerjasama yang ada. Dengan demikian pendidikan perlu dikembalikan kepada prinsip dasarnya, yaitu sebagai upaya untuk memanusiakan manusia. Pendidikan juga harus dapat mengembangkan potensi dasar peserta didik agar berani menghadapi berbagai tantangan global.
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa amat diperlukan pendidikan yang sengaja dirancang untuk membekali peserta didik dengan kecakapan hidup (life skill . Oleh karena itu, penulis mengangkat judul Pelaksanaan Model Kerja Sama Antarsiswa dalam Mendukung Pembelajaran Pada SMA Negeri  1 Liliriaja.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi rumusan masalah yaitu, “Bagaimanakah model kerjasama antarsiswa untuk mendukung pembelajaran  pada SMA Negeri 1 Liliriaja?”

C. Tujuan Penulisan
Penulisan karya ilmiah ini pada dasarnya untuk menguraikan model kerjasama antarsiswa sekelas untuk mendukung pembelajaran pada SMA Negeri 1 Liliriaja.

D. Manfaat
  1. Bagi peserta didik, diharapkan mampu mengaplikasikan pendidikan yang telah didapat sekolah bukan yang hanya berupa akademik, tetapi meningkatkan  kreativitas untuk beradaptasi dengan lingkungan melalui kerjasama antarsiswa sekelas.
  2. Bagi tenaga pengajar, diharapkan dapat mancapai hasil yang optimal yaitu melalui pemahaman terhadap karakteristik peserta didik khususnya dalam penjalinan kerjasama satu sama lain.
  3. Bagi masyarakat, diharapkan dapat lebih memahami dan sekaligus dapat membantu dalam berbagai pemecahan masalah yang berkaitan pengembangan sekolah ke depannya. Diharapkan juga adanya pola hubungan yang baik dalam menduduki peranan sosial masing-masing.
4.      Bagi penulis, yaitu sebagai wahana untuk memperkaya ilmu pengetahuan, serta membiasakan diri memecahkan masalah secara ilmiah. Melalui karya ilmiah ini, penulis dapat menjadikannya sebagai sarana untuk melatih diri mengembangkan bakat menulis dan meneliti. Penulis merasa bangga karena dapat membuahkan karya yang bermanfaat untuk masyarakat umum.




















BAB   II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

A. Pola Hubungan Kerja Sama
Pada hakikatnya kerjasama yang terjalin di lingkungan sekolah adalah untuk menunjang program pendidikan kecakapan hidup dengan pendekatan terhadap pendidikan berbasis luas. Pola hubungan kerjasama di bagi dalam dua kategori, yaitu hubungan kerjasama interen dan eksteren (Depdiknas. 2004:8) Hubungan interen adalah hubungan kerjasama yang hanya melibatkan unsur-unsur yang ada dalam sekolah, sedangkan hubungan eksteren adalah hubungan kerjasama yang akan melibatkan unsur sekolah dengan unsur wali murid serta masyarakat.
Kerja sama interen yang berlangsung di dalam lingkup sekolah diharapkan dapat menjadi tenaga pendobrak untuk menumbuhkan kreativitas siswa dalam berinteraksi sehingga tujuan akhir dari proses belajar mengajar dapat mencapai hasil yang optimal. Selanjutnya dapat menerima tantangan yang ada pada masayarakat yang kelak berupa kerjasama eksteren.

B. Strategi dan  Prosedur Kerjasama
Untuk dapat mencapai tujuan kerjasama yang efektif sesuai dengan harapan sebagaimana dimaksud dalam program pendidikan kecakapan hidup dengan pendekatan pendidikan berbasisi luas, maka strategi dan presedur pelaksanaan kerjasama interen antar unsur sekolah diberikan rambu-rambu sebagai berikut.
1.      Hubungan Kerjasama Antarsiswa Sekelas
Untuk melakukan optimasi pencapaian hasil belajar pada program pendidikan berbasis luas yang berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup, pembentukan kelompok kerja dalam proses pembelajaran merupakan tindakan yang tidak dapat dihindari. Dimensi-dimensi kecakapan hidup, terutama dimensi kecakapan sosial, seperti kepemimpinan, kolaborasi, korporasi yang parameternya hanya dapat diketahui kalau ada jalinan hubungan antarsiswa dalam kelompok kerja, maka pembentukan kelompok kerja dalam proses pembelajaran adalah yang terbaik yang harus dilakukan oleh guru.
Ada beberapa ragam model kelompok kerja yang dapai dibentuk oleh guru dalam  proses pembelajaran, yaitu:
a)      Kelompok Kompetensi (Skill Groups), merupakan kelompok kerja yang dibentuk berdasarkan keperluan untuk melaksanakan tugas tertentu dalam jangka waktu yang pendek. Jumlah siswa yang terlibat tidak terlalu banyak, dua atau tiga siswa per kelompok  dan keanggotaanya sebaiknya selalu diganti agar bisa memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi siswa untuk berinteraksi dengan semua siswa dalam kelas yang sama.
b)      Kelompok Minat, juga merupakan kelompok yang sifatnya terbatas untuk waktu pendek, dan keanggotaannya spontanitas pada saat diperlukan. Pembentukan kelompok ini semata-mata untuk menyelesaikan tugas jangka pendek yang pengerjaanya memerlukan konsentrasi atas dasar minat yang tinggi dari anggotanya. Keberhasilan kelompok sangat tergantung dari komitmen dan kemauan kerja sama yang tinggi. Dan kemungkinan tugas kelompok dikerjakan di luar jam sekolah dimana pengawasan guru sangat minimal.
c)      Kelompok Tugas, merupakan kelompok kerja kecil yang harus mengerjakan tugas-tugas tertentu dalam waktu yang terbatas. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk mengembangkan kecakapan kepemimpinan. Sebaliknya guru akan sangat mudah memantau atau melakukan pengukuran terhadap target yang telah ditetapkan.
Dengan adanya upaya pemberian kesempatan yang sama kepada semua siswa, maka tidak akan ada lagi siswa yang tertinggal atau tersisihkan dari perhatian guru untuk dapat mengembangkan potensinya masing-masing.
2.      Hubungan Kerjasama Antarsiswa dalam Sekolah.
Hubungan kerjasama antarsiswa dalam sekolah merupakan suatu bentuk interaksi kerjasama yang mengkaitkan keterlibatan siswa dalam lingkungan yang lebih besar, yang nantinya dapat melatih keterlibatan siswa dalam kehidupan nyata di masyarakat. Pembentukan kelompok kerja dalam proses pembelajaran memang dianjurkan untuk mengembangkan kecakapan hidup, namun demikian tidak seharusnya program pembelajaran selalu diberikan dalam bentuk penugasan kelompok kerja secara terus menerus dan dipaksakan setiap hari akan membuat siswa menjadi jenuh dan justru tidak akan memberikan kontribusi apapun terhadap pengembangan kecakapan hidup.
Pola hubungan kerjasama antar siswa dalam sekolah dapat kita jumpai pada pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler, misalnya kepramukaan, palang merah remaja, kelompok ilmiah remaja, dan sebagainya.
3.      Hubungan Kerjasama Antarsiswa dengan Guru
Hubungan Kerjasama Antarsiswa dengan Guru sejauh ini berlangsung secara monoton dan dalam keterpaksaan. Siswa harus mendengarkan, mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh guru dan tidak ada kesempatan untuk turut mengatur program belajarnya. Hubungan kerjasama yang ada adalah hubungan keterpaksaan tanpa demokrasi. Sedang yang diharapkan yaitu guru lebih terbuka dan sekedar menjadi fasilitator, pendamping, pengarah kegiatan belajar dan siswa sebagai pelaku belajar.
Proses kerja sama adalah interaksi sosial dimana yang akan banyak mendapat sasaran adalah siswa dan guru tentang bagaimana cara untuk mewujudkan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama. Guru adalah komunikator, karena dia akan menyampaikan rencana-rencana pembelajarannya pada siswa, mengatur dan menjelaskan bahan ajar. Semua aktifitas guru terkait dengan komunikasi dan jalinan kerjasama.
Dalam konteks komunikasi, kerjasama merupakan proses yang terus berkembang karena bukan suatu pekerjaan yang terisolasi, akan terus berubah mengikuti perubahan yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Bahan ajar yang akan disampaikan, inturksi, tugas dan rencana kegiatan lainnya yang diatur oleh guru. Dan yang menjadi sasaran adalah siswa. Interaksi yang berupa komunikasi dengan bahasa sebagian penyampaian pesan.
Selanjutnya diharapkan pada proses komunikasi siswa sebagai sasaran mampu mencerna pesan yang disampaikan baik itu dengan cara kerjasama antarsiswa dalam kelas tersebut. Yang selanjutnya dikembalikan kepada guru untuk disusun ulang menjadi lebih sempurna. Akhirnya tercapailah suatu proses pembelajaran dimana guru juga sudah mampu mempelajari karakter siswa dan mengklisifikasikan  sesuai dengan tanda-tanda bakat. 
C.  KERANGKA PIKIR
Dalam teori yang amat tradisional, dikemukakan bahwa unsur-unsur pokok dalam komunikasi adalah pesan, sasaran  komunikasi, sumber dan media (Hunt, 1999:62 dalam Depdiknas 2004:25).  Adapun hasil dari hubungan komunikasi diharapkan dapat tercipta hubungan kerjasama yaitu antara siswa dengan siswa sekelas, siswa dengan siswa lain dalam lingkungan sekolah , serta siswa  dengan guru. 






















BAB   III
METODE PENULISAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam menyusun karya ilmiah ini, adalah deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas atau untuk menguraikan tentang keadaan populasi atau sampel  yang  menjadi objek penelitian.
B. Populasi dan Sampel
Objek penelitian ini, yaitu  kelas X terdiri atas 9 kelas atau kelompok belajar.  Dengan rincian siswa putri 161 orang dan putra 88 orang orang, jadi jumlah populasi yang ada adalah 249 orang.
Adapun teknik penarikan sampel yaitu Simple random sampling, yaitu teknik penarikan sampel yang semua anggota populasi mempunyai peluang yang sama untuk dimasukkan ke dalam sampel. (Silaen, 2004:17).  Hal ini dilakukan mengingat karakteristik populasi dianggap sama yaitu dilihat dari umur,  keadaan fisik dan psikis. Tidak ada siswa yang cacat fisik dan mental pada SMA Negeri 1 Liliriaja. Semuanya dapat memberi informasi yang dibutuhkan dalam penelitia ini. Penelitian ini, tidak mengukur prestasi belajar siswa melaikan hanya membutuhkan informasi tentang pelaksanaan model kerja sama di SMA Negeri 1 Lilriaja.
Jumlah sampel yang dijadikan objek penelitian adalah 20% dari populasi berarti 50 orang. Setiap kelas rata-rata 5 sampai 6 siswa yang menjadi responden penelitian ini.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik dalam pengumpulan data yaitu melalui pengamatan terhadap kelas yang menjadi objek penelitian. Pemberian kuisioner pada siswa dan wawancara dengan guru jika ada masalah yang belum jelas.  Hasil kuisioner dianalisis berdasarkan teori kerjasama antarsiswa  sesuai petunjuk pelaksanaan pembelajaran life skill.
Hasil analisis itu, dideskripsikan dalam pembahasan karya tulis ini.
D. Waktu dan Lokasi Penelitian
Mulai dari pegamatan hingga dengan penyusunan karya ilmiah ini yaitu berlangsung dari tanggal 20 sampai dengan 25 April 2004. Lokasi penelitian yaitu di lingkungan SMA N 1 Liliriaja dengan mengambil sampel dari kelas X.
Kelas X menjadi objek penelitian karena kelas ini telah melaksanakan pembelajaran berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi.




















BAB  IV
PEMBAHASAN

A. Gambaran Model Kerjasama Antarsiswa Sekelas  SMAN 1 Liliriaja

Pelaksanaan model kerjasama anatarsiswa pada kelas X lainnya, umumnya hanya melibatkan siswa-siswa tertentu saja dan tidak merata terhadap seluruh siswa sehingga kadang ada kecenderungan hanya tiga, empat orang siswa saja yang bisa aktif  berkomunikasi dan bekerjasama di dalam kelas. Sedangkan yang lainnya hanya bisa mendengarkan tanpa terjun secara nyata.
Dalam pengaplikasian model kerjasama pada umumnya guru memilih model diskusi. Siswa diajari untuk menangkap pokok-pokok pelajaran atau bahan pelajaran secara cepat, menata informasi tersebut, serta menambahkan asosiasi dan pemikiran mereka sendiri. Namun kejenuhan sering timbul saat ada suatu kelompok yang begitu berkuasa dan sulit untuk dikendalikan hingga menimbulkan rasa jenuh dan acuh tak acuh dalam diri siswa bersangkutan.
Di sinilah sangat diperlukan peran penting seorang guru dalam membagi anggota kelompok sesuai dengan model tugas. Seperti yang telah dijelaskan dalam uraian sebelumnya yaitu pembentukan model kelompok kerja misalnya: kelompok kompetensi, kelompok minat dan kelompok tugas.
Setiap guru memiliki teknik tersendiri dalam membentuk kelompok belajar, minat, dan kelompok tugas.
1.  Kelompok kompetensi (Skill Group) merupakan kelompok belajar dibentuk berdasarkan keperluan untuk melaksanakan tugas tertentu dalam jangka pendek. Ini dilakukan oleh guru ketika proses belajar mengajar berlangsung. Adapun pembagian yang umumnya dilakukan oleh guru adalah:
a.  Berdasarkan urutan dalam buku absensi
Jika guru membutuhkan 10 kelompok maka pembentukan kelompok dimulai dari urutan 1 s.d. 3 sebagai kelompok I, urutan 4, s.d. 6, kelompok II, dan seterusnya.
1
4
7
10
13
16
19
22
25
28
2
5
8
11
14
17
20
23
26
29
3
6
9
12
15
18
21
24
27
30
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X

b. Pola urutan ganjil dan genap
Siswa diurutkan berdasarkan hitungan deretan tempat duduk. Setiap nomor urut ganjil dan genap dipisahkan masing-masing. Kemudian kelompok dibentuk berdasarkan kebutuhan. Adakalanya guru menggunakan urutan nama dalam buku absen atau nomor induk siswa.

c. Urutan tempat duduk
Pada umumnya guru membentuk kelompok kecil dengan anggota masing-masing dua siswa dari posisi tempat duduk yang berdampingan. Kekurangan dari model ini yaitu jika jumlah siswa ganjil sehingga satu kelompok harus lebih dari dua orang.

d. Berdasarkan pilihan siswa
Siswa dikelompokkan berdasarkan pilihan masing-masing. Biasanya guru terlebih dahulu menetapkan siapa yang menjadi ketua kelompok. Ketua kelompok memilih anggota berdasarkan kesepakatan yang bersangkutan.
Hasil dari pembagian kelompok seperti di atas, di samping sebagai kelompok dalam pembelajaran, juga  dipakai dalam menyelesaikan tugas seperti tugas pembuatan laporan pengamatan, makalah, dan diskusi panel. Kompetensi keanggotaan kelompok yang dibentuk terdiri atas siswa yang memiliki kemampuan dasar pengetahuan yang baik.

2. Kelompok Minat (Interest Group)
Kelompok minat merupakan kelompok belajar yang dibuat untuk keperluan jangka pendek misalnya adanya latihan drama, tugas karya ilmiah dan persiapan kunjungan wisata. Teknik pembagian kelompok yang banyak dilakukan oleh guru berdasarkan usulan siswa.
Usuluan siswa pada umumnya berdasarkan kedekatan tempat tinggal dan kemampuan/prestasi. Setiap kelompok harus memiliki seorang yang dianggap lebih dibanding dengan anggota lainnya.

3. Kelompok Tugas
Kelompok tugas merupakan kelompok kerja kecil yang harus mengerjakan tugas-tugas tertentu dalam waktu yang terbatas.  Biasanya dilaksanakan pada proses belajar-mengajar. Model yang banyak dilakukan oleh guru adalah berdasarkan kebutuhan si pelajar dan tujuan yang akan dicapai. Pengelompokan ditetapkan berdasarkan nilai tertinggi atau siswa yang dianggap mampu menguasai materi pembelajaran. Siswa ini membimbing rekannya yang lain sehingga terjadi komunikasi multiarah.
Sebagai hasil dari pembagian kelompok di atas yang perlu ditekankan adalah bagaimana hasil atau perubahan dalam hal positif yang dialami oleh siswa, jangan sampai siswa bersifat layaknya robot yang hanya mampu mengerjakan tugas dengan harapan akan adanya nilai yang tinggi.
Pada pelaksanaan pembagian kelompok yang ada pada kelas umunya siswa bersifat demikian dan hanya ada  dua tiga orang siswa yang mengamati betul bagaimana sebenarnya rumusan hasil yang diharapkan setelah menyelesaikan tugas belajar.
Dengan demikian dirasa perlu adanya pemahaman bahwa kita perlu meningkatkan atau mengefektifkan metode kerjasama agar dapat saling mengisi satu sama lain.
Perlu ditambahkan pula bahwa dalam merumuskan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran dari setiap bidang studi ada tiga buah sifat yang dapat dijadikan pedoman, yaitu:
1). Berpusat pada perubahan tingkah laku siswa, maksudnya dalam merumuskan tujuan harus berdasar pada tingkah laku siswa. Realitas dari pencapaian tujuan itu akan berwujud tingkah laku, sehingga dapat diukur atau diamati
2). Mengkhususkan dalam bentuk-bentuk yang terbatas, perlu diingat bahwa setiap tingkah laku yang ditunjukkan untuk realisasi dari suatu tujuan akan terbatas pada satu persoalan saja, bukan satu tingkah laku untuk satu tujuan tetapi untuk berbagai persoalan. Jadi yang tepat satu tingkah laku, untuk satu tujuan untuk menunjukkan pada satu persoalan.
3). Realistis bagi kebutuhan perkembangan siswa, yang paling penting setiap tingkah laku siswa yang merupakan realisasi tujuan itu akan membawa ke arah perkembangan pelajaran ke depannya.
Alternatif di atas penting untuk dijadikan acuan dalam merumuskan tujuan. Sebab kalau tidak, guru akan menghadapi kesulitan dalam memberikan evaluasi, selain itu perumusan tujuan di atas bukan karena kehendak guru atau karena kondisi sesuatu, melainkan harus dipahami sebagai dasar motivasi, baik oleh guru maupun siswa.

B. Gambaran Kerjasama Antara Siswa dalam Sekolah
Kerjasama siswa dalam suatu proses belajar mengajar tidak hanya mentok pada pelaksanaan pembelajaran antar siswa sekelas saja, tapi juga akan menyangkut pada rentang yang lebih luas dan dalam hal ini adalah kerjasama antara siswa dalam suatu lingkungan sekolah, dengan tujuan melatih siswa untuk berbuat dan terlibat dalam kehidupan yang nyata.
Pada prinsipnya tidak ada belajar kalau tidak ada aktifitas, dengan berpikir dan berbuat jelas bahwa dalam kegiatan belajar, siswa sebagai subjek harus aktif berbuat dengan pendidikan sebagai bimbingan dan merencanakan segala perbuatan yang akan diperbuat.
Aktivitas-aktivitas di sekolah cukup kompleks dan bervariasi seperti halnya kegiatan ekstrakurikuler yang dapat membantu dalam pengembangan sifat kepemimpinan, kemandirian,  kecakapan dan keterampilan.
1.      Dalam hal kepemimpinan dan kemandirian kegiatan ekstra yang mewakili adalah pramuka dan palang merah remaja. Kenyataannya di sini siswa dituntut agar mampu mengkoordinasi segala kegiatan yang akan dilaksanakan yang senantiasa merupakan proses untuk menemukan kedirian secara utuh. Bentuk kerjasama akan terlihat pada saat siswa memimpin suatu regu dengan kiat dan kewibawaan yang mampu menggerakkan temannya. Misalnya dalam latihan mendirikan tenda yang tidak mungkin akan dilaksanakan oleh satu orang saja. Selain itu keberhasilan akan nampak apabila diadakan latihan yang intensif .
2.      Dalam hal kecakapan, kegiatan ekstra pada SMA Negeri 1 Liliriaja yang menunjang kecakapan yaitu: KIR, Drumband, Home Industri, Karate, dan Teater. Pengembangan kecakapan semacam di atas didasarkan pada pendidikan berbasis luas. Dan model kerjasama di sini bersifat umum tanpa adanya pembagian kelompok semacam yang telah dijelaskan sebelumnya. Karena sifatnya hanya semacam bimbingan, pembagian kelompoknya akan dibentuk apabila tahap bimbingan sudah mantap dan selanjutnya berorientasi pada lomba atau pengaplikasiannya secara langsung dalam masyarakat luas.

C. Gambaran Kerjasama antara Siswa dengan Guru
Proses kerja sama adalah interaksi sosial dimana yang akan banyak mendapat sasaran adalah siswa dan guru tentang bagaimana cara untuk mewujudkan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama.
Guru dalam hal ini harus dapat menciptakan suasana kerjasama antar siswa dengan suatu harapan dapat melahirkan suatu pengalaman belajar yang lebih baik. Sebab jika tidak hati-hati, justru akibat pergaulan dengan lingkungan dapat pula membawa kegagalan dalam preoses belajar mengajar. Guru harus dapat membangkitkan semangat kerjasama, sehingga dapat dikembangkan sebagai metode untuk mengajarkan sesuatu, misalnya metode belajar kelompok. Selain itu bagaimana menciptakan program yang dapat menyalurkan minat masing-masing. Untuk menciptakan suasana yang akrab dan tanpa menghilangkan sikap kewibawaan seorang guru sebaiknya, sikap keterbukaan, saling menerima, mengisi dan tetap menghidupkan suasana dalam proses belajar perlu dijaga dengan baik karena bagaimanapun pasti akan berpengaruh dalam pelaksanaan metode kerjasama.
Tidak sedikit kesulitan yang dihadapi pada penjalinan kerjasama antar guru dan siswa dan yang sangat menonjol adalah masalah karakter satu sama lain. Kalau demikian didalam kegiatan belajar mengajar, setiap individu siswa memerlukan perlakuan yang berbeda, sehingga strategi dan usaha pelaksanaannya pun akan bervariasi. Memang sangat perlu diketahui adanya karakteristik siswa, minimal dapat mendekati pemecahan dalam rangka memerhatikan dan mengembangkan individu siswa.
Adapun karakteristik siswa yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar siswa antara lain:
1. Latar belakang pengetahuan dan taraf pengetahuan
2. Gaya belajar
3. Ruang lingkup minat
4. Lingkungan sosial ekonomi, dan budaya
5. Sikap, prestasi belajar, dan intelegensi.
Selanjutnya guru, dari hasil pengamatan langsung guru yang memang pada hakikatnya merupakan tenaga profesional dibidang kependidikan juga kadang mengalami kesulitan dalam menciptakan suasana yang dinamis dan demokratis. Seorang guru harus pintar itu sudah jelas, akan tetapi guru pintar di berbagai bidang belum tentu pintar dalam cara penyaluran bahan ajaran yang disenangi oleh siswa. Sebaliknya mungkin tingkat kepintaran seorang guru yang sedang justru mampu menciptakan alur komunikasi dan kerjasama yang baik.
Dalam hubungan ini salah satu cara untuk mengatasinya adalah melalui contact. Sekali lagi perlu digaris bawahi bahwa kegiatan belajar mengajar dan komunikasi tidak hanya berlangsung di dalam kelas secara formal, perlu diperhatikan bentuk kegiatan belajar mengajar lainnya. Cara belajat tersebut dapat melalui contact, sehingga mampu dikembangkan komunikasi dua arah. Guru dapat menanyai keadaan siswa dan sebaliknya siswa dapat mengajukan berbagai macam persoalan dan hambatan yang sedang dialaminya. Terjadilah proses interaksi dan komunikasi yang humanistik.

D. Gambaran Model Kerjasama yang Dapat Menunjang Pembelajaran
Model kerjasama akan lebih tampak dari diri siswa pada saat pelaksanaan proses belajar mengajar dibagi dalam bentuk kelompok yang tujuannya untuk melatih siswa dalam jiwa kepemimpinan yang dimiliki, mampu memecahkan masalah secara kritis dan kreatif dengan model pemikiran mereka sendiri.
Namun sebelum melangkah lebih jauh dari guru juga harus mampu mengenal tingkat kemampuan dan karakteristik pembawaan siswa sehingga pada saat proses belajar mengajar berlangsung tidak akan ada siswa yang jenuh, setidaknya semua elemen harus aktif dan turun tangan dalam memecahkan masalah
Adanya unsur saling pengertian akan sangat mendukung. Siswa harus menyadari bahwa seorang guru pada dasarnya akan mengarahkan peserta didiknya bukan justru menyulitkan. Begitupun seorang guru harus menyadari bahwa proses belajar mengajar nantinya akan melahirkan siswa yang kreatif dan mampu mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dalam menghadapi tantangan global.
Dalam pelaksanaan metode diskusi yang berlangsung dengan aktif akan sangat tampak karakter siswa yang telah mampu berpikir secara  kreatif dan menjalin kerjasama yang baik yaitu: 1) Selalu berani dalam menghadapi tantangan baru dan bersedia menghadapi resiko kegagalan, selalu ada rasa penasaran ingin mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. 2) Ekspresif, tidak takut menyatakan pemikiran dan perasaannya dan selalu mau menjadi diri sendiri. 3) rasa humor yang tinggi dengan menggabungkan hal-hal yang sedemikian rupa sehingga menjadi hal yang berbeda dan bermanfaat menghasilkan kreativitas.
Sifat di atas dapat ditumbuhkan dan diajarkan tetapi system pendidikan kita dewasa ini sudah sangat disibukkan oleh anak putus sekolah dan kejenuhan guru sehingga belum cukup perhatian dicurahkan untuk mengajar murid berpikir dan bertindak lebih kreatif. Murid tidak dirangsang untuk mencari dan menghargai labih dari satu jawaban terhadap masalah. Terlalu banyak penekanan pada jawaban yang benar dan pemikiran yang aman.
Secara alamiah siswa sebenarnya kreatif, dan tidak mengikuti adat, penuh humor dan mudah bosan. Sistem pendidikan kita menganjurkan disiplin, kepatuhan, dan pemberian jawaban yang sesuai dengan keinginan guru sehingga sifat-sifat alamiah tersebut sering padam. System sekolah menginginkan keteraturan yang begitu mengikat agar terhindar dari kegagalan namun justru hal yang begitu monoton menekan daya kreasi siswa. Dan menimbulkan rasa takut akan kegagalan.
Bisa dilihat dalam pelaksanaan model kerjasama siswa, apabila siswa telah menemukan kreativitasnya mereka cenderung menjadi mandiri, percaya diri, berani mengambil risiko, berenergi tinggi, antusias, spontan, suka berpetualang, cermat ingin tahu, humoris.
Setidaknya semua siswa terlahir dengan kemampuan mencipta. telah melalui bangku sekolah atau program pendidikan yang melatih pola hubungan kerjasama sehingga mampu menunjang pendidikan kecakapan hidupnya kelak dipergunakan dalam hubungan interaksi dengan masyarakat luas selain itu mampu menjadi manusia yang hidup di atas kaki sendiri dengan metode pemikiran yang kreatif dan handal.  


























B A B   V
P E N U T U P
A. Kesimpulan
Model kerjasama antar siswa sekelas, antar siswa dalam lingkungan sekolah, dan antara siswa dengan guru akan menjadi teratur dan terorganisir apabila dua elemen penting yaitu guru dan siswa bisa saling memahami satu sama lain sehingga semua bisa berjalan lancar dan proses belajar mangajar bisa lebih kompleks selain itu output akan lebih berkualitas dengan adanya metode kerjasama yang efektif.
Siswa kelas X.5 sebagai objek pengamatan untuk mengamati kerjasama antarsiswa sekelas banyak mengembangkan model kerjasama yang dituang dalam kelompok kompetensi, minat, dan kelompok tugas.
Model kerjasama yang sederhana akan membuka diri siswa pada kemungkinan mereka adalah orang kreatif dan mempunyai potensi yang tidak mereka sadari. Namun dengan metode kerjasama akan menunjang pengaplikasian kemampuan akademik di lingkungan luar sekolah.
Model kerjasama mendukung pembelajaran yang berorientasi life skill yang dapat memupuk kemampuan intelektual, akademik, berpikir kreatif, kepemimpinan, sikap, dan psikomotorik.

B. Saran-saran
Dalam pelaksanaan model kerjasama diharapkan agar guru dapat memperhatikan individualitas siswa dan memberi pelayanan khusus sehingga tidak ada siswa yang tertinggal dalam pembelajaran. Sebaliknya siswa harus menghormati dan memaklumi karakter guru yang berbeda-beda dalam mengelola pembelajaran.
Dukungan pemerintah, pihak sekolah, komite sekolah, dan guru sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan model kerjasama siswa dalam mendukung pembelajaran yang berorientasi KBK.
Daftar Pustaka

A.M. Sardiman. 2005. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Depdiknas. 2004. Sinergis antara Sekolah dan Mesyarakat. Jakarta: Direktorat
                  Pendidikan Menengah Umum.
Depdiknas. 2002. Konsep Dasar dan Pola Pelaksanaan Layanan Pendidikan Berbasis Luas dengan Pembekalan Kecakapan Hidup di SMU. Jakarta:
                  Direktorat Pendidikan Menengah Umum.
Furchan, Arief. 2004. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka
                  Pelajar.
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Rosyada, Dede. 2004. Paradikma Pendidikan Demokratis.Jakarta: Kencana
Silaen, Sofar. 2004. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Remaja. Jakarta: PT. Tugu
                  Pratama.
Sofyan, Herminanto. 2004. Penelusuran Potensi Siswa. Jakarta: Depdiknas.

























KUISIONER
1. Kelompok Kompetansi
Kelompok kompetensi yang dimaksudkan di sini yaitu guru membagi suatu kelompok kerja yang biasanya terdidri dari 2-3 orang per kelompok, untuk menyelesaikan tugas yang sifatnya hanya sementara, seperti dalam pembuatan laporan. Keanggotaan dari kelompok tadi selalu selalu diganti dengan yang baru dengan tujuan untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
Apakah hal tersebut sering dilaksanakan oleh guru Anda atau tidak ?
…………………………………………………………………………………
2. Kelompok Minat
Pembagian kelompok ini didasarkan pada minat seorang siswa, dan biasanya dilaksanakan diluar jam sekolah. Guru membagi kelompok ini biasanya untuk mengevaluasi kerjasama anggota kelompok seperti dalam tugas membuat sebuah naskah drama. Keberhasilan dari kelompok ini akan nampak dari kekompakan dan kemampuan yang sesuai dengan minat siswa.
Apakah hal tersebut sering dilaksanakan oleh guru Anda atau tidak ?
………………………………………………………………………………….
3. Kelompok Tugas
Merupakan kelompok kerja kecil yang keanggotaannya juga tidak lebih dari 2-3 orang. Siswa mengerjakan tugas tertentu dalam jangka waktu terbatas, yang tujuannya untuk melatih kepemimpinanan Siswa ini membimbing rekannya yang lain sehingga terjadi komunikasi multiarah di dalam kelas.
Apakah hal tersebut sering dilaksanakan oleh guru Anda atau tidak ?
.................................................................................................................................

1. Apakah Anda senang dengan pembagian kelompok seperti di atas atau tidak?
................................................................................................................................


2. Bagaimana cara guru Anda membagi kelompok semacam di atas ?
    1. Berdasarkan urutan dalam buku absen
    2. Pola urutan bilangan ganjil dan genap
    3. Urutan tempat duduk
    4. Berdasarkan pilihan siswa

3. Apakah perbedaan karakter sering menjadi penghambat dalam pelaksanaan kerjasama Anda baik dengan teman atau dengan guru Anda ?
..............................................................................................................................

4. Keuntungan apa saja yang dapat Anda peroleh dari pelaksanaan metode kerjasama?
..............................................................................................................................

5. Apakah Anda senang dengan pelaksanaan metode kerjasama dalam bentuk  diskusi atau tidak ? Jelaskan alasan Anda!
.................................................................................................................................
.................................................................................................................................

6. Kegiatan ekstra apa yang Anda senangi, yang bersifat melatih kepemimpinan atau keterampilan? Jelaskan alasan Anda !
.......................................................................................................................................................................................................................................................................
7. Karakter guru yang bagaimana yang Anda senangi?
    a. Pintar tapi tegang dalam penyaluran materi
    b. Tingkat kepintaran sedang tapi dalam penyaluran materi suasana tetap
        santai dan hidup.

Reactions:

2 comments:

Post a Comment

terima kasih buat semua yang udah ngepost commentnya...
thank you very much.........