Friday, November 25, 2011

kehidupan ekonomi waria di Kabupaten Soppeng

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
               Indonesia adalah salah satu negara yang terdiri atas berbagai macam pulau yang terpisah-pisah mulai dari Sabang sampai Maraoke. Total luas kawasan Indonesia tidak kurang dari 7,7 juta km² yang terdiri dari 1,9 juta 22 daratan, 3,1 juta km² perairan dan 2,7 juta km² kawasan ZEE (Zone Ekonomi Eksklusif). Indonesia juga merupakan negara yang heterogen. Hal ini ditandai dengan banyaknya suku yang mendiami kepulauan Indonesia tidak terkecuali suku Bugis di Kabupaten Soppeng Sulawesi Selatan.
               Suku Bugis di Kabupaten Soppeng memiliki corak khas tersendiri. Salah satunya terdapat sekelompok masyarakat minoritas yang mewarnai kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Soppeng. Dalam masyarakat bugis, terdapat empat macam gender yaitu 1) Pria, 2) Perempuan, 3) Calabai, dan 4) Calalai (Pelras, 2006: 190). Dapat diketahui bahwa posisi Waria (dalam bahasa bugis disebut calabai) menempati urutan gender ketiga. Di dalam buku tersebut dijelaskan pula bahwa waria atau calabai berarti “perempuan palsu” atau “hampir perempuan” adalah laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan dengan kedudukan gender berada dibawah laki-laki dan perempuan.
               Apabila kita tinjau dari segi pendapatan ekonomi waria, kedudukan gender waria sangat bertolak belakang dengan pendapatan ekonominya. Tingkat penghasilan waria dapat dikata mencapai rata-rata bahkan melebihi tingkat penghasilan gender pertama dan kedua, bahkan tidak jarang dari mereka menjadi tulang punggung keluarga.
               Dalam penelitian ini, kami tim peneliti berharap agar eksisitensi dan etos kerja para waria dapat dijadikan dasar dan motifasi untuk mewujudkan kehidupan ekonomi yang menjamin kesejahteraan ekonomi yang lebih baik khususnya di masyarakat Soppeng dan umumnya di Sulawesi Selatan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya waria di Kabupaten Soppeng juga memiliki sisi negatif karena ditinjau dari segi agama, status mereka tidak dibenarkan sebab menyalahi aturan agama khususnya agama islam.
               Situasi ini yang membuat penulis merasa perlu untuk mengkaji lebih dalam tentang “Waria” dalam kaitannya dengan masalah ekonomi. Untuk itulah, topik yang diangkat yaitu mengenai “kehidupan ekonomi waria di Kabupaten Soppeng”.   

B.  Rumusan Masalah
               Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu “Bagaimanakah kehidupan ekonomi waria di Kabupaten Soppeng?”
Kehidupan ekonomi akan diuraikan adalah ...
C.  Tujuan
               Untuk mengetahui kehidupan ekonomi waria di Kabupaten Soppeng.

D.  Manfaat
      1.   Bagi masyarakat
      Penulisan karya ini dimaksudkan agar masyarakat tidak terlalu memojokkan status waria dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Bagi pemerintah
Penulisan karya ini dimaksudkan agar pemerintah memberikan sarana dan prasarana sebagai media pengembangan krativitas.
3.      Bagi penulis
Sebagai media untuk memperkaya ilmu pengetahuan. Melalui penelitian dan  penulisan membiasakan diri memecahkan masalah secara ilmiah. Dengan karya ilmiah dapat menjadi sarana untuk melatih diri mengembangkan bakat menulis dan meneliti. Penulis merasa bangga karena dapat membuahkan karya yang bermanfaat untuk masyarakat umum.


E.  Definisi Operasional Variabel
        Waria adalah wanita pria. Pria yang bersifat dan bertingkahlaku seperti wanita serta fisiknya kewanita-wanitaan.
        Kehidupan ekonomi yang kami maksudkan adalah macam-macam kebutuhan dan pekerjaan yang terbagi atas pendapatan dan pengeluaran sehingga menciptakan kesejahteraan ekonomi yang mampu menjamin kelangsungan hidup. 
























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Waria
               Dalam masyarakat bugis, waria disebut sebagai calabai. Dari asal katanya, waria disebut wanita pria artinya pria yang bersifat dan bertingkah laku seperti wanita serta dan fisiknya kewanita-wanitaan, bukan dibuat-buat tetapi bawaan dari lahir (KBBI, 2003: 1269). Sedangkan dalam istilah biologi waria disebut hermafroditisme, artinya keadaan berkelamin dua jenis, baik nyata maupun samar-samar (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2003: 397). Selain itu, waria atau calabai juga memiliki kelainan seks. Umumnya mereka lebih suka pada sesama jenis.

B.  Kehidupan Waria Ditinjau dari Segi Ekonomi
               Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial dengan tingkat kebutuhan yang bermacam-macam dan tidak terbatas. Kenyataan ini juga berlaku pada gender ketiga (waria). Kehidupan ekonomi mereka dapat dikata sama dengan gender yang lain. Sehingga mereka juga perlu melakukan berbagai macam kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan mereka.
1.  Kehidupan ekonomi waria dalam kaitannya dengan macam-macam kebutuhan
         Waria tak ubahnya seorang manusia. Maka dari itu kebutuhan waria juga sama dengan masyarakat lain yang dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat kepentingan, waktu pemenuhan, sifat, dan subjek (Suyanto dan Nurhadi, 2000: 6).
    a.  Kebutuhan berdasarkan tingkat kepentingan
          Berdasarkan tingkat kepentingannya, kebutuhan manusia dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
1)  Kebutuhan primer yang disebut juga sebagai kebutuhan pokok yang mutlak harus dipenuhi. Jika salah satu kebutuhan primer tidak terpenuhi maka kehidupan seseorang dikatakan tidak layak. Kebutuhan primer meliputi kebutuhan akan makanan dan minuman, pakaian, perumahan, kesehatan, dan pendidikan.
2)  Kebutuhan sekunder merupakan kebutuhan manusia yang kedua dengna kata lain tidak pokok. Kebutuhan ini muncul setelah kebutuhan primer terpenuhi. Jika kebutuhan sekunder tidak terpenuhi, kelayakan kehidupan seseorang tidak terganggu tapi jika dapat dipenuhi kehidupan seseorang menjadi lebih baikdengan kata lain dapat meningkatkan tingkat/kaulitas kehidupan seseorang.kebutuhan sekunder tergantung pada status seseorang. Misalnya televisi, meja, kursi, sepatu, kipas angin, dll.
3)  Kebutuhan tersier disebut juga kebutuhan kemewahan. Kebutuhan tersier muncul setelah kebutuhan primer dan sekunder terpenuhi. Kebutuhan ini didukung oleh tingkat penghasilan yang tinggi. Misalnya kebutuhan akan lemari es, perhiasan, mobil, komputer, dll.
          b.   Kebutuhan berdasarkan waktu pemenuhan
                Berdasarkan waktu pemenuhan, kebutuhan dapat dibedakan menjadi :
                1) Kebutuhan masa kini yang disebut juga kebutuhan sekarang. Pemenuhan kebutuhan masa kini bersifat mendesak. Artinya, pemenuhan masa kini tidak boleh ditunda. Misalnya, kebutuhan akan obat bagi orang sakit, kebutuhan akan minum bagi orang haus, dll.
                2) Kebutuhan masa datang disebut juga kebutuhan kelak. Pemenuhan kebutuhan masa datang dapat ditunda sampai waktu yang telah ditentukan. Misalnya, kebutuhan memiliki komputer sendiri, namun masih dapat ditunda karena telah tersedia komputer di meja kerjanya.
          c.   Kebutuhan berdasarkan sifat
                Berdasarkan sifat, kebutuhan manusia dibedakan atas:
1)  Kebutuhan jasmaniah yang berhubungan dengan kesehatan dan penampilan fisik (badan) manusia.
2)  Kebutuhan rohaniah mencakup penyegaran intelektual (pengetahuan), mental (kejiwaan), dan moral (perilaku).
d.      Kebutuhan berdasarkan subjek
Berdasarkan subjek yang membutuhkan, kebutuhan dibedakan atas:
1)  Kebutuhan pribadi yang berhubunan dengan selera dan pilihan.
2)  Kebutuhan sosial yang berhubungan dengan kebersamaan, mulai dari keluarga sampai masyarakat.        
      2. Kehidupan ekonomi waria dalam kaitannya dengan pekerjaan
                Kehidupan waria pada umumnya erat kaitannya dengan dunia pekerjaan. Mereka memenuhi segala kebutuhannya dengan bekerja. Yang paling mengherankan umumnya pekerjaan mereka sama dengan pekerjaan wanita. Dalam hidupnya kita dapat salut pada etos kerja mereka. Para waria tidak pernah memandang suatu pekerjaan sebagai pekerjaan yang rendahan malahan mereka ingin mengerjakan apa saja untuk dapat menyambung hidup guna mencapai kesejahteraan dan kehidupan ekonomi yang layak.
                Dengan adanya berbagai lowongan kerja yang memungkinkan bagi mereka untuk mengembangkan talentanya seakan kata “gengsi’ telah terputus dalam kehidupan mereka. Menurut Pelras (2006: 191) para waria umumnya disewa dalam mengurusi masalah-masalah praktis seperti dekorasi rumah, masak-memasak, dandan dan pakaian pasanan pengantin serta sewa perhiasan dan pernak-pernik kedua mempelai dan rombongannya. Mereka juga sering kali melaksanakan acara-acara ritual tradisional masyarakat bugis selaku “indo botting” (dalam bahasa bugis). Aktifitas-aktifitas ini menjadi sumber penghasilan utama sebagian besar waria.
      3. Kehidupan ekonomi waria dalam kaitannya dengan pendapatan
          Menurut Mubyarto (2000: 33) ekonomi masyarakat sebenarnya merupakan tulang puggung ekonomi nosional yang bisa diandalkan. Keberadaan waria dalam lingkup masyarakat adalah salah satu diantaranya.
                Para waria yang telah bekerja umumnya memperoleh pendapatan di atas rata-rata. Hasil kerja mereka digunakan untuk memenuhi segala kebutuhannya. Sebagai gender ketiga, waria dapat memeperoleh pendapatan yang menyamai pendapatan gender pertama dan kedua. Pada umumnya mereka memiliki pekerjaan tetap dan rata-rata tidak ada yang pengangguran sehingga mereka dapat memperoleh pendapatan yang layak dan hal ini mampu menopang perekonomian nasional.
      4. Kehidupan ekonomi waria dalam kaitannya dengan pengeluaran
                Waria yang pada kodratnya merupakan laki-laki, memiliki kebutuhan yang melebihi dari kaum laki-laki umumnya. Mereka lebih cenderung berpenampilan bak perempuan sehingga kebutuhan mereka juga sama dengan perempuan. oleh karena itu, pengeluaran waria sedikit lebih banyak dari pada laki-laki.






BAB III
METODE PENELITIAN

A.  Jenis Penelitian
               Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan tujuan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kehidupan ekonomi waria.

B.  Populasi dan Sampel
    Objek penelitian ini, yaitu seluruh waria di Kabupaten Sopeng yang tergabung di organisasi IWARSOP dengan jumlah 200 orang. Adapun teknik yang kami gunakan dalam penarikan sampel yaitu simple random sampling (sampel acak sederhana) yaitu pengambilan sampel melalui undian (Silaen, 2004: 17). Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah 25% dari jumlah seluruh populasi yaitu 50 waria dengan perincian sebagai berikut:                 
a.   Kecamatan Lalabata                     :     7 waria
b.  Kecamatan Lilirilau                       :     8 waria
c.   Kecamatan Liliriaja                       :     7 waria
d.  Kecamatan Marioriwawo              :     7 waria
e.   Kecamatan Donri-donri                :     7 waria
f.   Kecamatan Marioriawa                 :     7 waria
g.  Kecamatan Gandra                       :     7 waria

C.  Teknik Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data yang kami lakukan adalah:
a.   Penelitian Kepustakaan (Library Research), yaitu mengumpulkan data dari berbagai jenis buku literatur dan bahan tertulis lainnya yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas.
b.   Wawancara (interview), yaitu dengan mewawancarai 50 orang waria.
c.   Kuesioner, yang berisi 17 pertanyaan kepada responden.

D.  Waktu dan Lokasi Penelitian
1.   Waktu penelitian
            Dalam rangka penyusunan karya ilmiah ini, kami memanfaatkan waktu kurang lebih 2 bulan dengan perincian sebagai berikut:
Tabel  3.1
Jadwal Kegiatan Penelitian
No.
Lokasi
Jenis Kegiatan
Bulan
Mei
Juni
Mgg 3
Mgg 4
Mgg1
Mgg 2
Mgg 3
Mgg4
1.
Soppeng
Identifikasi Masalah sdan
PenyusunanWawancara
X
X




2.
Soppeng
Studi awal

X
X



3.
Soppeng
Pengolahan data


X



4.
Soppeng
penyusunan karya tulis ilmiah



X
X
X
           
      









 2.   Lokasi Penelitian
                  Dalam rangka proses pengumpulan data, penulis menggunakan lokasi yang meliputi seluruh wilayah kecamatan yang ada di Kabupaten Soppeng.






BAB IV
PEMBAHASAN

A.    Kehidupan Ekonomi Waria dalam Kaitannya dengan Macam-macam Kebutuhan
                        Dalam kehidupan sehari-harinya, waria mempunyai bermacam-macam kebutuhan baik yang bersifat pribadi maupun umum. Dari hasil penelitian, diperoleh data tentang terpenuhi atau tidak berbagai macam kebutuhan waria  berdasarkan tingkat kepentingan, waktu pemenuhan, berdasarkan sifat, dan berdasarkan subjek yang dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.1 Pemenuhan Kebutuhan Waria
di Kabupaten Soppeng
NO.
Pemenuhan Kebutuhan
Jawaban
Frekuensi
Persentas (%)
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.
Primer

Sekunder

Tersier

Masa Kini

Masa Datang

Jasmani

Rohani

Pribadi

Sosial
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
50
-
50
-
30
20
50
-
40
10
50
-
25
25
50
-
30
20
100%
0%
100%
0%
60%
40%
100%
0%
80%
20%
100%
0%
50%
50%
100%
0%
60%
40%

Jumlah

450
900%
      Sumber: Angket dan Wawancara
                  Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata waria dapat memenuhi segala kebutuhannya baik pribadi ataupun umum. Hal ini ditandai dengan adanya waria yang mampu memenuhi kebutuhannya sampai 100% walaupun masih ada sebagian kecil dari waria yang kebutuhannya belum terpenuhi. Akan tetapi sudah dapat dikata bahwa kehidupan waria sudah mencapai tingkat kemakmuran, karena umumnya waria memiliki etos kerja yang baik dan kemauan yang tinggi untuk terus bekerja dan menghasilkan uang guna memenuhi kebutuhannya tanpa menghiraukan kata “gengsi”. 

B.     Kehidupan Ekonomi Waria dalam Kaitannya dengan Pekerjaan
a.   Pekerjaan ditinjau dari segi kelangsungan
                  Pekerjaan dari segi kelangsungan yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pekerjaan tetap dan sampingan. Para wariapun menekuni kedua pekerjaan ini. Pernyataan waria mengenai keduanya dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.2 Pekerjaan waria
ditinjau dari kelangsungannya
NO.
Kelangsungan Pekerjaan
Jawaban
Ferekuensi
Persentase(%)
1.

2.
Tetap

Sampingan
Ya
Tidak
Ya
Tidak
35
15
50
-
70%
30%
100%
0%

Jumlah

100
200%
            Sumber data: Angket dan Wawancara
                  Dari tabel tersebut, dapat diketahui bahwa 35 waria dengan persentase 70% memiliki pekerjaan tetap dan ini membuktikan bahwa tidak ada satupun waria yang pengangguran. Tidak hanya itu, adapun waria yang memiliki pekerjaan sampingan karena umumnya mereka memiliki skill sehingga mereka mampu menunjang kehidupannya. Hal ini dibuktikan 50 waria dari sampel dengan persentase100% bekerja sampingan.
b.      Macam-macam pekerjaan ditinjau dari segi kelangsungannya
            Beberapa macam pekerjaan tetap dan sampingan yang ditekuni para waria dapat dilihat dari data tabel berikut ini:
Tabel 4.3 Macam-macam pekerjaan tetap
NO.
Pekerjaan tetep
Frekuensi
Peresentase (%)
1.
2.
3.

4.
Guru
Salon
Menyewakan pernak-pernik pengantin dan busananya
Juru masak
2
14
11

8
4%
28%
22%

16%

Jumlah
35
70%
      Sumber data: Angket dan Wawancara
                  Dari data di atas, dapat diketahui bahwa pekerjaan tetap yang paling banyak digeluti waria di Kabupaten Soppeng adalah usaha salon sebanyak 14 waria dengan persentase 28%, kemudian diikuti pekerjaan, menyewakan pernak-pernik sebanyak 11 waria dengan persentase 22%, lalu juru masak sebanyak 8 waria dengan persentase 16% dan yang paling sedikit yaitu pekerjaan Guru sebanyak 2 waria dengan persentase 4%. Hal ini membuktikan bahwa pada umumnya, pekerjaan mereka sama dengan pekerjaan wanita dan yang paling mengherankan, cara dan hasil kerja mereka lebih baik dari wanita.
Tabel 4.4 Macam-macam pekerjaan sampingan
NO.
Pekerjaan sampingan
Frekuensi
Persentase (%)
1.
2.
3.
4.
Pelatih tari
Pelatih model
Penata dekorasi
Paranormal
14
11
49
1
28%
22%
98%
2%

Jumlah
75
150%
            Sumberdata: Angket dan Wawancara
                  Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa pekerjaan sampingan yang paling banyak dilakukan olah waria adalah penata dekorasi dengan persentase sebanyak 98%. Pada umumnya, pekerjaan ini dilakukan musiman karena mereka  mendekorasi, apabila mendapat orderan dari masyarakat yang membutuhkan tenaga mereka, dalam arti jika masyarakat melakukan suatu kegiatan seperti pernikahan, maka waria melakukan pekerjaan sampingan yaitu mendekorasi tempat pernikahan.

C.  Kehidupan Ekonomi Waria dalam Kaitannya dengan Pendapatan
                  Waria di Kabupaten Sopeng pada umumnya memiliki pendapatan di atas rata-rata yang mampu mewujudkan kesejahteraan dalam hidupnya.
                  Besar pendapatan para waria perbulannya dapat kita lihat melalui tebel di bawah ini:
Tabel 4.6 Pendapatan rata-rata waria
di Kabupatan  Soppeng
NO.
Kode Responden
Pendapatan (per bulan)
1.
1W
Rp 1.500.000,-
2.
2W
Rp 3.000.000,-
3.
3W
Rp 1.750.000,-
4.
4W
Rp 1.000.000,-
5.
5W
Rp 2.500.000,-
6.
6W
Rp 1.300.000,-
7.
7W
Rp 2.400.000,-
8.
8W
Rp 800.000,-
9.
9W
Rp 1.200.000,-
10.
10W
Rp 750.000,-
11.
11W
Rp 1.400.000,-
12.
12W
Rp 3.000.000,-
13.
13W
Rp 2.000.000,-
14.
14W
Rp 1.000.000,-
15.
15W
Rp 800.000,-
16.
16W
Rp 600.000,-
17.
17W
Rp 1.000.000,-
18.
18W
Rp 1.500.000,-
19.
19W
Rp 700.000,-
20.
20W
Rp 700.000,-
21.
21W
Rp 750.000,-
22.
22W
Rp 650.000,-
23.
23W
Rp 900.000.-
24.
24W
Rp 2.250.000,-
25.
25W
Rp 2.000.000,-
26.
26W
Rp 800.000,-
27.
27W
Rp 600.000,-
28.
28W
Rp 900.000,-
29.
29W
Rp 750.000,-
30.
30W
Rp 800.000,-
31.
31W
Rp 700.000,-
32.
32W
Rp 800.000.-
33.
33W
Rp 3.000.000,-
34.
34W
Rp 4.500.000,-
35.
35W
Rp 4.000.000,-
36.
36W
Rp 3.500.000,-
37.
37W
Rp 900.000,-
38.
38W
Rp 1.000.000,-
39.
39W
Rp 1.300.000,-
40.
40W
Rp 600.000,-
41.
41W
Rp 1.000.000,-
42.
42W
Rp 800.000,-
43.
43W
Rp 3.000.000,-
44.
44W
Rp 2.500.000,-
45.
45W
Rp 800.000,-
46.
46W
Rp 3.000.000,-
47.
47W
Rp1.000.000,-
48.
48W
Rp 900.000,-
49.
49W
Rp 600.000,-
50.
50W
Rp 700.000,-
                  Sumber data: Angket dan Wawancara
Dari tabel di atas, dapat kita ketahui bahwa pendapatan maksimal waria Rp 4.500.000,- dan minimun Rp 600.000,- sehingga apabila dirata-ratakan, pendapatan waria di Kabupaten Soppeng kurang lebih Rp 1.478.000,- per bulan. Hal ini dapat meningkat atau menurun, tergantung pada banyaknya orderan masyarakat  serta banyak tidaknya masyarakat yang mengadakan acara-acara yang membutukan tenaga waria. Dari pendapatan yang diperoleh waria, umumnya dapat mencukupi segala kebutuhan mereka dan dapat dilihat bahwa pendapatan mereka dapat melebihi pendapatan gender lain dengan kata lain tingkat perekonomian mereka lebih baik.

D.  Kehidupan Ekonomi Waria dalam Kaitannya dengan Pengeluaran
                Waria yang pada kodratnya merupakan laki-laki, lebih cenderung berpenampilan bak perempuan sehingga kebutuhan mereka juga sama dengan perempuan yang mengakibatkan pengeluaran merekapun cukup besar. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:
      Tabel 4.6 Pengeluaran rata-rata waria
di Kabupatan  Soppeng
NO.
Kode Responden
Pengeluaran (per bulan)
1.
1W
Rp 500.000,-
2.
2W
Rp 1.500.000,-
3.
3W
Rp 850.000,-
4.
4W
Rp 500.000,-
5.
5W
Rp 1.250.000,-
6.
6W
Rp 650.000,-
7.
7W
Rp 1.200.000,-
8.
8W
Rp 400.000,-
9.
9W
Rp 500.000,-
10.
10W
Rp 350.000,-
11.
11W
Rp 700.000,-
12.
12W
Rp 1.500.000,-
13.
13W
Rp 900.000,-
14.
14W
Rp 400.000,-
15.
15W
Rp 350.000,-
16.
16W
Rp 200.000,-
17.
17W
Rp 500.000,-
18.
18W
Rp 700.000,-
19.
19W
Rp 300.000,-
20.
20W
Rp 350.000,-
21.
21W
Rp 400.000,-
22.
22W
Rp 300.000,-
23.
23W
Rp 450.000.-
24.
24W
Rp 1.100.000,-
25.
25W
Rp 1.000.000,-
26.
26W
Rp 400.000,-
27.
27W
Rp 250.000,-
28.
28W
Rp 450.000,-
29.
29W
Rp 300.000,-
30.
30W
Rp 400.000,-
31.
31W
Rp 300.000,-
32.
32W
Rp 300.000.-
33.
33W
Rp 1.700.000,-
34.
34W
Rp 2.500.000,-
35.
35W
Rp 2.000.000,-
36.
36W
Rp 1.500.000,-
37.
37W
Rp 500.000,-
38.
38W
Rp 500.000,-
39.
39W
Rp 600.000,-
40.
40W
Rp 200.000,-
41.
41W
Rp 600.000,-
42.
42W
Rp 400.000,-
43.
43W
Rp 1.700.000,-
44.
44W
Rp 1.300.000,-
45.
45W
Rp 500.000,-
46.
46W
Rp 800.000,-
47.
47W
Rp 500.000,-
48.
48W
Rp 400.000,-
49.
49W
Rp 300.000,-
50.
50W
Rp 350.000,-
                            Sumber data: Angket dan Wawancara
                  Dari tabel di atas, pengeluaran waria yang paling tinggi sekitar Rp 2.500.000,- dan yang paling rendah Rp 200.000.- sedangkan apabila di rata-ratakan  dapat mencapai Rp 712.000,-. Pengeluaran waria dalam jumlah besar umumnya dikarenakan mereka memenuhi kebutuhan pribadi dan pekerjaan bahkan adapun waria yang bertindak sebagai tulang punggung keluarga.







BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.  Kesimpulan
      1.   Segala macam kebutuhan waria pada umumnya telah terpenuhi. Hal ini disebabkan mereka memiliki kreatifitas yang tinggi sehingga memudahkan mereka mencari lapangan kerja.
      2.   Para waria di Kabupaten Soppeng rata-rata memiliki pekerjaan, baik yang tetap maupun sampingan sehingga tingkat perekonomian mereka semakin baik sebab tidak ada waria yang mengganggur.
      3.   Hasil kerja waria di masyarakat umumnya mendapat respon yang baik, rata-rata pendapatan mereka dapat mencapai kurang lebih Rp 1.478.000,- per bulan sehingga pendapatan merekapun mampu menjamin kemakmuran dan kehidupan perekonomian mereka dan keluarga bahkan hasil kerja mereka  melebihi gender pertama (laki-laki) dan gender kedua (perempuan).
      4.   Pengeluaran waria di Kabupaten Soppeng rata-rata per bulan mencapai kurang lebih Rp 712.000,- .

B.  Saran
                  Melalui karya tulis ini, hendaknya masyarakat tidak memandang waria dari sisi negatif saja tapi waria harus dilihat dari sisi positif. Mereka sebagai gender ketiga di kehidupan sosial mampu mensejahterakan kehidupan mereka melebihi gender lain. Hal ini harus dijadikan motifasi bagi masyarakat untuk lebih mensejahterakan kehidupannya dengan mengacu pada etos kerja yan dimiliki para waria.






KATA PENGANTAR

            Atas karunia Allah swt., serta kemauan yang keras disertai bantuan dari berbagai pihak maka penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini sehingga dapat diikutkan dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diadakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Yayasan Bhakti TANOTO.
            Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis mengalami berbagai kesulitan, akan tetapi berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan kamauan yang keras disertai petunjuk dari berbagai kalangan, maka kesulitan itu dapat diatasi. Untuk itu dalam hal ini penulis sangat merasa bersyukur kehadirat Allah swt., dan ucapan terimah kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya terutama kepada:
1.   Kepala SMA Negeri 1 Liliriaja yang telah memberi kami kesempatan dan peluang yang sangat baik untuk mengikuti lomba karya tulis ilmiah ini.
2.   Bapak Drs. A. Budiarman selaku guru pembimbing KIR SMA Negeri 1 Liliriaja atas bimbingan dan segala kesempatan yang telah diberikan kepada penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini.
3.   Panitia lomba karya ilmiah remaja yang telah menyelenggarakan kegiatan ini.
4.   Para waria yang telah bekerjasama dalam rangka penyusunan karya ilmiah ini.
5.   Teristimewa buat orang tua dan keluarga yang telah memberikan dorongan dan doa kepada penulis.
            Sudah tentu karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan untuk itu penulis sangat memohon sumbangan saran dan kritik yang sifatnya konstruktif untuk kesempurnaan karya tulis kami yang selanjutnya. Semoga Allah swt. membalas amal baik kita semua. Amin Ya Rabbal Alamin.


Cangadi, Juni 2006


Penulis

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Mubyarto. 2000. Membangun Sistem Ekonomi. Jogjakarta: BPEE
Pelras, Christian. 2006. Manusia Bugis. Jakarta: Nalar bekerja sama dengan          Forum Jakarta-Paris, EFEO, 2005.
Silaen, Sofar. 2004. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Remaja Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial. Jakarta: Jasa Usaha Mulia.
Sutanto dan Nurhadi. 2000. IPS Ekonomi. Yogyakarta: Erlangga.
 


Reactions:

0 comments:

Post a Comment

terima kasih buat semua yang udah ngepost commentnya...
thank you very much.........